Rabu, 26 Juni 2019

Pemanfaatan Cloud Computing di Bidang Pendidikan



I. Latar Belakang
Pada saat ini perkembangan teknologi di Indonesia semakin pesat. Apalagi saat ini telah banyak di terapkan dalam bidang Pendidikan. Sebab, teknologi di yakini dapat meningkatkan kualitas dan mutu dalam bidang Pendidikan. Selain itu, kehidupan manusia saat ini juga menjadi salah satu faktor pendorong perkembangan teknologi. Karena, manusia di zaman sekarang ini lebih menyukai hal-hal yang simple dan tidak perlu banyak waktu juga tidak perlu membuang tenaga dalam melakukan suatu hal. Pendidikan telah secara bertahap diperluas, dan objek pendidikan telah perlahan- lahan berubah menjadi staf sosial. Perubahan metode  pengajaran dari  papan  tulis  menjadi Online berkembang sangat pesat. Sebuah tutor Online yang membantu pembelajaran dari setiap kelas di setiap jam merupakan sebuah kelanjutan dari penggunaan teknologi dalam pengajaran. E-learning dan solusi online adalah apa yang kita perlukan di lingkungan pendidikan.

Cloud Computing adalah teknologi yang menjadikan internet sebagai pusat pengelolaan data dan aplikasi, di mana pengguna komputer diberikan hak akses (login). Penerapan komputasi awan saat ini sudah dilakukan oleh sejumlah perusahaan IT terkemuka di dunia. Sebut saja di antaranya adalah Google (google drive) dan IBM (blue cord initiative), ada juga ICloud yang dikembangkan oleh Aple. Sedangkan di Indonesia, salah satu perusahaan yang sudah menerapkan komputasi awan adalah Telkom (Anggi, pusatteknologi.com).

Dengan adanya perkembangan teknologi serta layanan pada cloud computing, sekolah maupun perguruan tinggi harus siap dan berani dalam memanfaatkan teknologi ini. Secara nyata saat ini perkembangan teknologi komputasi sudah semakin compact dan mobile (mobile phone, tablet, ultramobile), dimana pengguna dapat memanfaatkan teknologi tersebut dimana saja dan kapan saja. Perangkat mobile phone dan tablet saat ini sudah menjadi bagian dari keseharian dari pada penggunanya, demikian pula dengan para siswa dan guru, maupun mahasiswa dan dosen. Menurut Gartner pada situsnya (http://www.gartner.com/newsroom/id/2408515) perkembangan perangkat mobile akan meningkat dibandingkan dengan perangkat komputer (desktop pc dan notebook), hal ini terlihat dari jumlah shipment yang dilakukan antara tahun 2012-2014. Perkembangan dari penggunaan perangkat mobile akan juga dirasakan oleh perguruan tinggi dimana para mahasiswa dan dosen akan banyak menggunakan perangkat ini dalam menjalankan proses belajar mengajar. 

Internet adalah sumber daya dimana kita dapat mengubah Cloud Computing, ia dapat memberikan software yang paling canggih serta bahan pendidikan, sumber daya hardware dan layanan bagi mahasiswa dan pendidik di sekolah bahkan kabupaten paling miskin atau terpencil di suatu provinsi tanpa perlu memiliki kemampuan IT secara mendalam. 

Lembaga – lembaga pendidikan seperti sekolah mapun kampus sudah tidak lagi membutuhkan media buku dalam proses belajar mengajar. Para siswa/mahasiswa hanya tinggal mengunduh E-book tersebut melalui internet. Dari sini para siswa/mahasiswa sudah tidak lagi harus lagi mengeluarkan dana untuk membeli buku, mereka bisa langsung mengunduh materi yang tersedia di E-book melalui internet. Dengan ini cloud computing sudah dapat meminimalkan anggaran dana pengeluaran para pelajar yang memanfaatkan E-book.

II. Rumusan Masalah
- Definisi Cloud Computing
- Sejarah Cloud Computing
- Kelebihan dan Kekurangan Cloud Computing
- Jenis layanan yang di beri oleh Cloud Computing
- Pemanfaatan Cloud Computing Dalam Bidang Pendidikan

III. Batasan Masalah
Batasan masalah yang ditetapkan oleh Penulis adalah penerapan Cloud Computing dalam tingkat Pendidikan Jenjang SMA/SMK yang saat ini sebagai objek nya yaitu salah satu sekolah Swasta yang ada di kota Medan. Si Penulis di amanatkan untuk tidak menuliskan nama sekolah tersebut ke dalam artikel ini dengan tujuan yang telah disepakati. Pada saat ini, sekolah tersebut telah menerapkan sistem E-Learning kedalam metode pembelajarannya. Metode tersebut saat ini memang sedang trend di kalangan pendidikan. Karena, dapat memudahkan siswa dalam mencari dan membahas modul yang disampaikan oleh guru nya.

IV. Tujuan
1. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah menambah wawasan tentang penerapan Cloud Computing khususnya dalam tingkat sekolah menengah atas sebagai sarana pendukung pembelajaran yang efektif. 
2.  Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Operasi.

V. Manfaat
Manfaat yang dapat diberikan melalui artikel ini adalah :
1. Dapat menjadi sarana pembelajaran bagi siswa/i maupun mahasiswa lain.
2. Bagi masyarakat umum dapat menjadi penambah wawasan tentang pemanfaatan Cloud Computing ini di bidang pendidikan
3. Referensi untuk dapat dikembangkan kembali.

VI. Landasan Teritoris
Saat ini pengajaran di kelas telah berubah dan mahasiswa berorientasi teknologi dan dengan perubahan yang terjadi di lingkungan ini menjadi penting bagi perguruan tinggi untuk menggunakan teknologi terbaru dalam proses belajar mengajar. Salah satu teknologi terkini yang banyak digunakan adalah komputasi awan. Dengan melakukan berbagi layanan TI dalam awan, institusi pendidikan dapat melakukan alih daya atas layanan pendukung yang dimiliki dan lebih fokus dalam memberikan perangkat yang bermanfaat bagi kesuksesan mahasiswa, dosen, fakultas dan  staff (Yadav, 2014). Hal ini diperkuat juga dengan pernyataan bahwa pemakai layanan adalah pengguna yang paling berharga. Mereka membutuhkan layanan yang handal dan tepat waktu, dengan antarmuka yang mudah digunakan, mendukung kolaborasi, informasi layanan yang mereka gunakan (Vouk, 2008).

VII. Pembahasan
Komputasi awan (cloud computing) adalah teknologi yang menjadikan internet sebagai pusat pengelolaan data dan aplikasi, di mana pengguna komputer diberikan hak akses (login). Penerapan komputasi awan saat ini sudah dilakukan oleh sejumlah perusahaan IT terkemuka di dunia. Sebut saja di antaranya adalah Google (google drive) dan IBM (blue cord initiative). Sedangkan di Indonesia, salah satu perusahaan yang sudah menerapkan komputasi awan adalah Telkom (Anggi, pusatteknologi.com).
20_2
Sumber: Greiner, 2014, robertgreiner.com

Ada 3 (tiga) model pengiriman (delivery) dalam komputasi awan: (1) Software as a Service (SaaS), (2) Platform as a Service (PaaS), dan (3) Infrastructure as a Service (IaaS). SaaS merupakan layanan untuk menggunakan aplikasi yang telah disediakan – penyedia layanan mengelola platform dan infrastruktur yang menjalankan aplikasi tersebut. PaaS merupakan layanan untuk menggunakan platform yang telah disediakan – pengembang fokus pada aplikasi yang dibuat tanpa memikirkan tentang pemeliharaan platform. IaaS merupakan layanan untuk menggunakan infrastruktur yang telah disediakan.
20_3
Sumber: 2016, mytechlogy.com

Ada 4 (empat) model penyebaran (deployment) dalam komputasi awan: (1) public cloud, (2) private cloud, (3) hybrid cloud, dan (4) community cloud. Public cloud penggunaannya hampir sama dengan shared hosting, di mana dalam 1 (satu) server ada banyak pengguna. Private cloud hanya ada 1 (satu) pengguna dalam server. Hybrid cloud dapat digunakan untuk public atau private cloud. Sedangkan community cloud dapat digunakan bersama-sama oleh beberapa perusahaan yang memiliki kesamaan kepentingan (Ulum, 2015, blog.wowrack.co.id). Model penyebaran komputasi awan kadang sering disebut sebagai cloud storage.

Komputasi awan menjawab masalah dan tantangan IT. Sebut saja di antaranya adalah masalah tingginya anggaran investasi IT dan rencana pemulihan bencana (Disaster Recovery Plan, DRP) sebagai bagian dari business continuity. Kedua masalah tersebut dapat terjawab dengan baik oleh komputasi awan. Masalah lainnya, seperti tingginya tuntutan kebutuhan perusahaan, dapat terjawab dengan baik oleh komputasi awan dengan cara ketangkasan dalam pengembangan (seagate.com).

Beberapa pertimbangan utama sebelum beralih ke komputasi awan: (1) ketersediaan dan kecepatan internet, (2) kontrak jaminan tingkat pelayanan (Service Level Agreement, SLA), (3) komitmen/kesungguhan pelayanan penyedia jasa, (4) pengalaman penyedia jasa (khususnya di bidang komputasi awan), (5) on demand self service, (6) komputer server down, (7) keamanan dan privasi, (8) lokasi data dan yurisdiksi/ketetapan hukum, (9) backup data dan DRP, dan (10) biaya yang akan dikeluarkan.

Dengan adanya komputasi awan, jumlah komputer beserta sejumlah perangkat infrastruktur yang melekat dapat dihilangkan/dikurangi secara signifikan. Pergeseran tren perusahaan dalam membeli serta memelihara server dan aplikasi on-premise yang mahal, bergerak menuju ke bentuk metode penyewaan IT, sesuai dengan kebutuhan (cloudindonesia.com).

IT bukan merupakan pemberi kontribusi terbesar dalam pertambahan panas di Bumi. Tapi dengan menerapkan Green IT, salah satunya menerapkan komputasi awan, maka akan memberikan kontribusi positif dalam rangka mengurangi dampak negatif dari pemanasan global. Aktivitas cetak-mencetak kertas dapat dihindari. Komputasi awan mendukung Green IT, khususnya dalam hal efisiensi energi (karena penghilangan komputer beserta perangkatnya) dan paperless. 

Sejarah Perkembangan Cloud Computing
Cloud computing sendiri sebenarnya merupakan hasil dari evolusi yang berlangsung secara bertahap. Sebelum cloud computing mulai booming seperti sekarang ini, terlebih dahulu terjadi beberapa fenomena seperti virtualisasi, grid computing, ASP / application service provision dan juga Software as a service atau yang lebih dikenal pula dengan sebutan SaaS. Sebenarnya, pada tahun 60 an pun sudah mulai muncul konsep yang menyatukan beberapa sumber computing dengan menggunakan jaringan yang bersifat global.

Pada saat itu, sistem seperti ini disebut dengan “Intergalactic Computer Network”. Sistem ini diciptakan oleh J.C.R. Licklider yang kemudian menjadi penanggung jawab atas pembangunan Advanced Research Projects Agency Network (ARPANET) tepatnya pada tahun 1969. Licklider memiliki sebuah cita-cita dimana ia ingin setiap orang di dunia ini mampu terhubung satu sama lain dan mampu mengakses data serta program dari berbagai sistus dan dari berbagai tempat.

Penambahan Konsep Oleh Para Pakar
Berdasarkan dari dasar pendapat Liclider inilah kemudian perkembangan cloud computing mulai berlanjut. Beberapa ahli atau pakar kemudian memberikan tambahan mengenai konsep Licklider. Salah satunya adalah John McCarthy. John kemudian memberikan gagasan mengenai sebuah jaringan computing yang kemudian akan menjadi infrastuktur untuk public.

Sejak saat itulah kemudian cloud computing atau sistem komputasi awan ini mulai berkembang dan berjalan secara seiringan dengan perkembangan web dan juga internet. Namun, pada tahun 1990an terjadi perubahan bandwidth yang bisa dikatakan cukup besar sehingga membuat internet menjadi lebih dahulu berkembang dibandingkan dengan perkembangan Cloud Computing. Seiring berjalannya waktu, kini mulai terlihat bahwa jaringan internet lah yang seakan menjadi pendorong utama sistem cloud computing.

Batu Loncatan pada Tahun 1999
Pada tahun 1999, storage.salesforce.com seakan menjadi batu loncatan yang sangat berarti bagi sejarah perkembangan cloud computing. Mengapa? Karena situs tersebut merupakan pencetus yang pertama untuk aplikasi perusahaan yang dijalankan dengan Internet. Yang kemudian perkembangan cloud computing disusul dengan web Amazon pada tahun 2006 yang menggunakan teknologi Elastic Compute Cloud.

Teknologi ini memungkinkan terdapatnya situs layanan web yang bisa dikomersialkan dan juga memungkinkan beberapa perusahaan kecil atau besar dan juga individu untuk dapat menyewa computer atau juga server yang kemudian dapat difungsikan untuk memnjalankan setiap aplikasi yang mereka miliki. Batu loncatan besar lainnya datang pada tahun 2009. Pada saat itu, Google dan perusahaan besar lainnya mulai menawarkan aplikasi dengan browser sebagai dasarnya. Sebut saja seperti Google apps.

Pada dasarnya, cloud computing bisa sangat cepat menyebar dan menjadi sangat disukai karena adanya layanan yang mudah untuk dikonsumsi sehingga banyak orang yang menerimanya dan akan memberikan efek penerimaan yang luas. Selain itu, ada beberapa faktor lain pula yang mempengaruhi cepatnya sejarah perkembangan cloud computing seperti matangnya teknologi visual, perangkat lunak yang bersifat universal, serta perkembangan bandwidth dengan kecepatan tinggi.

Dalam penggunaan suatu hal pasti tidak terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan. Begitu juga dengan penggunaan cloud computing. Cloud computing memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan. Diantaranya dijabarkan seperti dibawah ini:
A. Kelebihan Cloud Computing
  1. Murah
    Penggunaan cloud computing sangat hemat biaya untuk alokasi perangkat keras. Cloud computing juga tidak memerlukan maintenance dan mengurangi pemakaian listrik.
  1. Mudah Di Akses dimana saja
    Karena data kita tersimpan di dalam server di internet maka mudah bagi pengguna untuk mengakses data dimanapun dan kapanpun asal terhubung dengan internet.
  1. Fleksibilitas
    Ketika data yang kita punya terlalu besar maka ia otomatis menambah kapasitas hanya dalam hitungan menit dengan melakukan self-provisioning. Sehingga tidak perlu melakukan penambahan jumlah komputer.
  1. Memberikan manfaat yang besar bagi perusahaan , diantaranya Reduce Cost, Flexibility, Improved Automation, Sustainbility dan focus on Core Competency.
  2. Ramah lingkungan
    Cloud computing termasuk teknologi yang ramah lingkungan karena ia tidak memerlukan banyak perangkat keras dan tentunya semakin meminimalisir penggunaan listrik yang tentunya memberikan pengaruh sehingga tidak ramah pada lingkungan.
  1. Aspek sosial
    Cloud computing sangat berpengaruh pada hubungan sosial dimana seseorang bisa berkomunikasi dengan orang lain dari berbagai belahan dunia.
  1. Aspek Politik
    Penggunaan cloud computing memudahkan kinerja pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
  1. Aspek Ekonomi
    Penggunaan cloud computing dapat mempermudah dalam proses transaksi bisnis.

B. Kekurangan Cloud Computing
  1. Tidak bisa dijalankan tanpa koneksi internet, itu artinya ketika akan mengakses data maka kita harus berada di daerah yang terjangkau jaringan internet. jika tidak ada jaringan internet maka tidak bisa mengakses data.
  2. Kurang aman terhadap privasi data pengguna, karena di hosting secara bersamaan sehingga sangat mudah diretas oleh hacker.
  3. Ketika data terhapus, maka kecil kemungkinan untuk memulihkan data.
  4. Kepatuhanya kepada provider masih diragukan.
  5. Kemampuan kebijakan keamanan pada provider masih diragukan dan tidak terjamin
  6. Jarangnya diadakan pelatihan dan audit IT sehingga masih banyak yang gagap akan teknologi ini.
  7. Data antar pelanggan sangat rapat sehingga memungkinkan terjadinya data yang tertukar.
Pelayanan Cloud Computing
Ada tiga jenis/ tingkatan pada layanan berbasis cloud, yaitu Saas (Software as a Service), IaaS (Infrastructure as a Service) dan PaaS (Platform as a Service). Seperti apa perbedaan antara ketiganya? Mari simak penjelasan berikut.

SaaS (Software as a Service)
Sesuai namanya, layanan cloud computing jenis ini disediakan dalam bentuk software atau perangkat lunak. Contohnya adalah Google Docs dan Spreadsheet serta Adobe Creative Cloud. Pada praktiknya, Anda hanya menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut tanpa perlu mengerti dimana (secara fisik) data disimpan atau bagaimana aplikasi dikelola. Hal-hal tersebut sudah termasuk dalam layanan yang diberikan oleh penyedia Software as a Service.
Melalui SaaS, Anda dapat mengakses software (aplikasi) dengan mudah tanpa perlu menediakan storage perangkat Anda khusus untuk menyimpan aplikasi tersebut. Penyedia layanan juga akan menjamin ketersediaan dan reliabilitas aplikasi miliknya. Dengan begitu, Anda bisa fokus dalam memaksimalkan penggunaan aplikasi tersebut.

PaaS (Platform as a Service)
Layanan cloud jenis ini hadir dalam bentuk platform yang dapat Anda gunakan untuk membuat aplikasi. Jika dianalogikan, PaaS memungkinkan Anda untuk menyewa “rumah” dan berbagai “lingkungan”-nya (network, database engine, sistem operasi, framework aplikasi, dan sebagainya) untuk membantu berjalannya aplikasi yang Anda buat. Sebagai penyewa, Anda tak perlu memikirkan pemeliharaan rumah tersebut karena penyedia layanan Platform as a Service -lah yang akan melakukannya, sehingga Anda dapat fokus mengembangkan aplikasi yang Anda buat di “rumah” tersebut.
Contoh penyedia PaaS ini adalah IBM Bluemix. Pada layanan tersebut, Anda dapat membuat aplikasi sendiri dengan berbagai fitur yang telah tersedia. Idealnya, fitur utama dari PaaS adalah skalabilitas yang tinggi. Jadi, semakin banyak pengguna aplikasi Anda, penyedia PaaS akan secara otomatis membantu aplikasi Anda untuk dapat melayani jumlah pengguna tersebut.

IaaS (Infrastructure as a Service)
Pada IaaS, penyedia layanan akan memberikan sumber daya infrastruktur komputasi (cloud computing) yang lengkap, mulai dari server, jaringan, storage, hingga ruang data center. Sederhananya, ketika menggunakan IaaS, Anda sebenarnya sedang menyewa komputer virtual yang masih kosong. Setelah disewa, Anda bisa menambahkan komponen komputasi seperti CPU, RAM, Storage, Public IP, dll untuk membangun komputer virtual yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
Dengan menggunakan layanan IaaS, Anda tak perlu membeli perangkat komputer fisik dan juga memikirkan pengelolaannya. Kabar baiknya lagi, IaaS memungkinkan Anda untuk melakukan konfigurasi komputer virtual tersebut secara mudah, cepat dan praktis. Misalnya, jika komputer virtual menampung data lebih dari kapasitas yang tersedia, Anda bisa menambahkan RAM atau storage dengan cepat.


Dengan adanya perkembangan teknologi serta layanan pada cloud computing, perguruan tinggi harus siap dan berani dalam memanfaatkan teknologi ini. Secara nyata saat ini perkembangan teknologi komputasi sudah semakin compact dan mobile (mobile phone, tablet, ultramobile), dimana pengguna dapat memanfaatkan teknologi tersebut dimana saja dan kapan saja. Perangkat mobile phone dan tablet saat ini sudah menjadi bagian dari keseharian dari pada penggunanya, demikian pula dengan para mahasiswa dan dosen. Menurut Gartner pada situsnya (http://www.gartner.com/newsroom/id/2408515) perkembangan perangkat mobile akan meningkat dibandingkan dengan perangkat komputer (desktop pc dan notebook), hal ini terlihat dari jumlah shipment yang dilakukan antara tahun 2012-2014. Perkembangan dari pengunaan perangkat mobile akan juga dirasakan oleh perguruan tinggi dimana para mahasiswa dan dosen akan banyak menggunakan perangkat ini dalam menjalankan proses belajar mengajar.
Cloud computing telah banyak diadopsi oleh berbagai sektor industri termasuk dalam sektor pendidikan. Menurut Rao & Challa (2013) cloud computing dapat menjadi alternatif yang penting untuk lingkungan pendidikan saat ini. Keuntungan yang didapatkan dari teknologi terbaru saat ini dapat membantu penyelesaian tantangan – tantangan yang umum terjadi.
  • Universitas dapat membuka infrastruktur teknologi kepada bisnis dan industri untuk kemajuan penelitian.
  • Efisiensi dari cloud computing dapat membantu universitas dalam mengimbangi pertumbuhan kebutuhan sumber daya dan biaya pada sumber energy.Keuntungan lain dari cloud computing memungkinkan institusi untuk mendidik siswa dengan cara yang berbeda dan membantu mereka dalam mengelola proyek dan beban kerja yang besar.
  • Ketika siswa masuk ke dalam tuntutan kerja yang besar, mereka akan lebih memahami nilai dari teknologi
  • Cloud computing melepaskan institusi dari manajemen data, memastikan bahwa pengguna selalu memiliki dokumen terbaru dan mengurangi biaya.
  • Cloud computing menawarkan perangkat online dan menyediakan layanan komunikasi yang aman serta kemampuan kolaborasi.
  • Cloud computing memungkinkan guru dan siswa untuk mengakses, menyebarkan, dan mempublikasikan dokumen, kalender kelas atau halaman web
Rao & Challa (2013) juga mengidentifikasi ada tiga dampak utama yang menjadi faktor pada sistem pendidikan :
  • Biaya yang rendah dan teknologi yang gratis
    Saat ini telah banyak pertumbuhan untuk teknologi yang berbiaya rendah untuk interaksi sosial, publikasi, editing, kreasi konten, dan sebagainya. Banyak teknologi yang sebelumnya berharga mahal atau tidak tersedia, saat ini dapat diakses oleh siapa saja di web browser. Website, blog, web berbagi video, web berbagi music, media social menggunakan cloud computing.
  • Pertumbuhan Konten
    Jumlah pertumbuhan konten berada pada kisaran eksponensial, tersedia pada semua orang, dan semua orang dapat berkontribusi.
  • Kolaborasi
    Teknologi saat ini berkembang dengan sangat cepat dalam komunikasi dan kolaborasi. Teknologi baru saat ini membuat interaksi dan kolaborasi dapat dilakukan melalui web, diantara siswa di kelas yang sama ataupun di tempat lain diseluruh dunia. Tim yang dinamis dan kolaborasi yang interaktif adalah kemampuan utama dari cloud computing.

VIII. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Cloud Computing merupakan salah satu implementasi teknologi yang bertujuan mempermudah pelayanan pengelolaan sumber daya, juga sebagai pemecah masalah komputasi.

Saran
Dalam penerapan Cloud Computing yang semakin memudahkan proses belajar mengajar dalam lingkungan sekolah, tidak menutup kemungkinan akan hal negatif lainnya yang muncul, seperti penggunakan gadget yang tidak semestinya, yang seharusnya ditujukan untuk belajar mengajar. Dalam hal ini orang tua dan guru perlu menanam kan rasa tanggung jawab kepada siswa, dan rasa disiplin untuk menanggulangi hal seperti itu.

IX. Daftar Pustaka

3 komentar:

Pemanfaatan Cloud Computing di Bidang Pendidikan

I. Latar Belakang Pada saat ini perkembangan teknologi di Indonesia semakin pesat. Apalagi saat ini telah banyak di terapkan dalam bi...